Profesor UB rancang Agro Sinergi wujudkan pertanian berkelanjutan

Kombinasi antara pupuk organik kemudian anorganik memunculkan produktivitas pada tumbuhan yang setara atau lebih besar tinggi, dibandingkan menggunakan pupuk anorganik saja
Malang, Jawa Timur – Profesor Keilmuan Pertanian Organik dari Universitas Brawijaya (UB) Prof Setyono Yudo Tyasmoro merancang konsep Agro Sinergi untuk optimalisasi penyelenggaraan pupuk organik kemudian anorganik sebagai langkah mewujudkan pertanian berkelanjutan.
Prof Setyono dalam Perkotaan Malang, Jawa Timur, Senin, mengungkapkan walau pupuk organik mempunyai laju pelepasan nutrisi yang lebih banyak lambat, tetapi jikalau dikombinasikan dengan pupuk anorganik akan memberikan dampak signifikan pada tanaman.
"Kombinasi antara pupuk organik dan juga anorganik menghasilkan kembali produktivitas pada flora yang setara atau tambahan tinggi, dibandingkan menggunakan pupuk anorganik saja," kata Prof Setyono.
Penggunaan pupuk organik juga didasari langkah menghurangi dampak kecacatan tanah lalu peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang ditimbulkan dari pupuk anorganik.
"Strategi ini menunjukkan efisiensi terhadap nitrogen yang lebih besar tinggi, peningkatan kesuburan tanah, dan juga penurunan emisi NO2 (Nitrogen Dioksida) hingga 35-60 persen," ujarnya.
Konsep Agro Sinergi miliknya ini akan dijadikan sebagai naskah orasi ilmiah pada waktu pengukuhan Guru Besar Universitas Brawijaya pada Selasa (25/2).
Dia menjelaskan Agro Sinergi lahir dari hasil keinginannya untuk menciptakan sistem pertanian yang mana berkelanjutan, tetapi tidak ada memberikan pengaruh negatif untuk lingkungan.
"Kebaruan konsep ini terletak pada pengoptimalan pemanfaatan substansi organik lokal, seperti azolla, limbah pertanian, kemudian kotoran hewan, yang mana mengupayakan siklus nutrisi alami kemudian disinergikan dengan pupuk anorganik," katanya.
Sebab, kata dia, ketika kecacatan lingkungan tiada ditanggulangi secara masif kemudian menggunakan keilmuan, maka mampu berakibat pada terganggunya sistem hidup di dalam bumi.
"Yang terjadi pada pertanian adalah menambah efek rumah kaca untuk memenuhi keperluan pangan kita. Mengapa butuh organik? Karena material itu salah satu yang tersebut menciptakan tanah menjadi sehat," ujarnya.
Kemudian agar konsep Agro Sinergi dapat berjalan maksimal, maka diperlukan teknologi operasional yang dimaksud mengusung konsep ramah lingkungan.
"Teknologi ramah lingkungan maksudnya yang mana tidaklah membuang GRK ke atmosfer, khususnya NO2 juga metan," kata Prof Setyono.
Dia berharap konsep yang tersebut digagas itu sanggup diterapkan oleh pemerintah guna memunculkan keseimbangan antara pemenuhan keperluan pangan serta kelestarian pada kondisi lingkungan.
"Saya berharap bisa saja diadopsi oleh pemerintah yang dimaksud melaksanakan swasembada pangan. Tetapi harus dijalankan dengan ramah lingkungan," tutur Prof Setyono.






